Pagi itu sangat cerah, matahari bersinar cemerlang siswa SMP N 1 Paseh hari ini mengadakan Pekan Olah Raga Kelas (POR Kelas), banyak sekali olah raga yang dilombakan waktu itu dari mulai basket, voli sampai Futsal, hampir seluruh kelas mengikuti tiap pertandingan itu, begitu juga dengan anak-anak kelas 3, waktu itu UAS (Ujian Akhir Semester) baru selesai jadi hari itu merupakan hari bebas, ada satu hal yang aku benci pada waktu-waktu seperti itu, saat hari masih pagi sekitar pukul 8-10 sekolah akan terlihat ramai dengan POR Kelas tapi setelah lewat pukul 10 maka sekolah akan terlihat sepi dimana tiap kelas akan di isi oleh anak-anak 3E yang berpacaran, satu kelas sama dengan satu pasangan, perlu diketahui di SMP N 1 Paseh kelas 3 angkatan kami dibagi menjadi 10 kelas yaitu kelas 3A sampai 3J, dari kelas 3 ini ada satu kelas istimewa dimana murid-muridnya adalah residivis-residivis buku hitam sekolah waktu kelas 2 yaitu kelas 3E, kelas 3E terdiri dari murid-murid yang mempunyai kasus seperti perkelahian, pengeroyokan, rokok, miras, narkoba, penghancuran fasilitas sekolah, dan kasus-kasus mengerikan lainnya yang terangkum dalam buku hitam sekolah sewaktu kelas 2, alhasil berdirilah satu kelas dimana murid-muridnya adalah lelaki semuanya dan menjadi penguasa diantara kelas 3 bahkan menguasai seluruh murid kelas 1 dan 2, kelas 3E biasa melakukan pemukulan dan pengeroyokan terhadap siapapun, setiap hari pasti saja ada yang di keroyok dan dipukuli oleh kelas 3E bahkan ada yang sampai masuk Rumah Sakit, sahabatku Graha adalah penghuni kelas 3E, dan hal itu membuatku merasa aman dari incaran membabi buta pengeroyokan anak-anak 3E.
Waktu itu aku bersama dengan 3 teman sekelasku Atep Candra, Eri Fizar dan Topan Maulana, kami adalah anak-anak kelas 3B, waktu itu kami sedang merencanakan pertunjukan yang akan ditampilkan untuk EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) Praktek Kesenian, meskipun di luar kelas terdengar hiruk pikuk siswa-siswa lain yang sedang berlomba dalam POR Kelas tapi kami tidak begitu terpengaruh, waktu itu Atep Candra dipanggil Candra, Eri Fizar di panggil Fizar, aku sendiri dipanggil yayan tapi Topan dipanggil topan saja karena maulana terlalu panjang utuk sebuah nama panggilan, sekitar pukul 10 POR kelas berakhir, jadinya sekolah tampak lebih sepi tanpa banyak guru dan siswa. Saat sedang asik-asiknya bercakap-cakap dengan 3 temanku itu, tiba-tiba Graha datang dengan terpogoh-pogoh “Gus, si Aep Kerasukan!!” kata Graha, sebelum sempat ku jawab Graha menuntun tanganku dan dan membawaku lari menuju ke depan kelas 3G, disana aku melihat Aep sambil memejamkan mata dan tubuhnya yang kotor menegang dia menggeram sambil berjalan dengan pelan, semua siswa menjauhinya, anak-anak perempuan menatapnya dengan tatapan cemas ada yang menjerit ada yang menangis ketakutan dan ada yang berkomat-kamit membacakan do’a yang bisa diingatnya, aku terdiam melihat kejadian itu, lalu Graha berkata “sembuhkan dia Gus”, “iya” jawabku, lalu aku memanggil Eyang Kali, tapi Eyang Kali datang hanya sebentar saja lalu keluar lagi sebelum sempat berkata-kata, tapi setelah itu aku dirasuki oleh makhluk yang lain yang belum ku kenal, yang aku rasakan lebih hebat dari pada Eyang Kali dan Eyang Jati, tubuhku seperti minum 2 gelas minuman suplemen Extra Joss yang membuat jantungku berdebar kencang, setelah itu aku segera berlari dan memeluk tubuh Aep, Aep yang kerasukan segera membantingku, tanganku bergetar lalu menutup muka Aep selama beberapa menit lamanya, tiba-tiba tubuh Aep roboh dan terlihat lemas, waktu itu meskipun aku sama-sama kerasukan tapi aku bisa mengontrol tubuhku dengan cukup baik, anak-anak kelas 3E yang lainnya segera membawa tubuh Aep yang Pinsan masuk ke dalam kelas 3G tidak ada guru yang terlibat dalam kejadian itu karena jarak ruang guru dan kelas 3G cukup jauh dan tidak terpantau, lagi pula, saat itu banyak guru yang sudah pulang. Kelas 3G segera di isolasi oleh anak-anak kelas 3E didalamnya hanya ada aku, Aep, Graha, dan Yayat, dengan perlahan Aep menggeliat lalu aku segera memegang ujung jempol tangan kirinya dengan sedikit terengah-engah aku bertanya “siapa namamu”, Aep berkata dengan suara bergetar dan berat “SANTAANG”, lalu aku berkata lagi “pergilah dari tubuh anak ini, karena kalau kamu melawan, berarti kamu berani melawanku”, setelah itu Aep terlihat marah dan berontak dia mencoba melepaskan tangan kirinya dari genggamanku, aku langsung memegang ubun-ubun kepala Aep, lalu terasa seperti ada yang medorong kepalaku, setelah itu aku segera meniup ubun-ubun kepala Aep, Aep langsung lemas lagi, setelah itu pintu kelas dibuka dan masuklah beberapa orang tanpa pakaian seragam, jelas mereka bukanlah siswa, yang aku tau mereka langsung membawa tubuh Aep pergi keluar sekolah, tidak lewat gerbang utama, tapi lewat jalan belakang. Setelah kejadian itu aku bertanya pada yang merasukiku, “terima kasih Eyang, kalau boleh tau ini sama siapa” lalu mulutku berkata tanpa kukendalikan, “nama saya Ndus, dan yang merasuki anak tadi adalah Eyang Santang”, setelah berkata begitu Eyang Ndus berpamitan padaku, Graha dan Yayat, setelah mengucapkan salam Eyang Ndus keluar dari tubuhku, lalu aku merasa sangat lelah dan sangat lemas tubuhku langsung berkeringat.
Hari itu aku benar-benar seperti pahlawan, waktu keluar dari kelas 3G banyak anak-anak perempuan yang simpati padaku, Pertempuran Eyang Ndus dan Eyang Santang adalah pertempuran yang hebat yang bisa aku rasakan, meskipun waktu itu aku tidak punya pacar tapi aku tidak berani memilih satu pun diantara mereka, bayang-bayang ketakutan terhadap pemukulan yang akan dilakukan anak 3E terhadap siapapun yang berpacaran disekolah selain 3E membuatku mengurungkan niat untuk berpacaran, meskipun anak-anak 3E adalah teman-teman dekatku juga, karena aku juga biasanya turut berkontribusi dalam beberapa aksi kenakalan mereka, seperti memecahkan kaca sekolah, menghancurkan langit-langit sekolah dengan pukulan, dan lain sebagainya, dan semua itu adalah hal yang membuatku senang.
Setelah pulang sekolah aku segera pulang kerumah, setelah makan makan aku didatangi oleh Eyang Kali yang langsung menceritakan semua kejadian tadi pada orang tuaku lalu Eyang Kali berkata bahwa Eyang Ndus itu tak lain adalah Sunan Kudus, tidak lama setelah itu beberapa orang yang tidak kukenal memanggil-manggilku, aku kelaur rumah dan ternyata mereka adalah orang-orang yang membawa Aep waktu di sekolah tadi mereka meminta tolong agar aku bisa menyembuhkan Aep karena di rumahnya, Aep kerasukan lagi. Tidak berapa lama aku segera bergegas pergi tapi ayahku memaksa untuk ikut, akhirnya akupun ditemani oleh ayahku untuk menyembuhkan Aep. , waktu itu sangat sulit untuk menyembuhkan Aep dirumahnya, Eyang Santang memiliki ilmu yang sangat tinggi, menggunakan Eyang Ndus untuk menyembuhkan Aep membuatku sangat kelelahan akhirnya dengan air putih yang di usapkan ke wajah Aep, penyembuhan itu berhasil dilakukan. Dalam cerita versi Eyang Santang kemarahan Eyang Santang adalalah karena kuburannya ditancapkan pisau oleh seorang manusia yang memiliki kesaktian tinggi, dengan menggunakan tubuh Aep dia ingin mencabut pisau itu, tapi Eyang Ndus melarangnya karena tubuh Aep dan kuburan itu jaraknya teramat jauh, solusinya, Eyang Ndus menyarankan Eyang Santang merasuki orang yang lebih dekat dengan kuburannya tapi tidak dengan tubuh Aep. Begitulah. Hari itu terasa amat menyenangkan sampai akhirnya aku pulang dan tidur dengan tubuh yang sangat kelelahan.

