Minggu, 14 Maret 2010

Episode 3, bukan Jin? Benarkah?

“dan sesungguhnya ada beberapa orang lelaki, dari beberapa orang manusia meminta perlindungan kepada beberapa lelaki dari jin tetapi mereka (jin) menjadikan mereka sesat” (QS.al jinn : 6),

“jin” satu kata yang aku yakini saat itu, bahwa yang masuk ketubuhku adalah Jin yang akan menyesatkan manusia, dia akan menyesatkan aku, kedua orang tuaku dan siapa saja yang mengenalku. Keesokan harinya setelah kejadian itu, aku didatangi oleh seorang pedagang pasar, dia adalah tetangga dagang ibuku. Itulah awalnya aku di datangi banyak tamu dari berbagai pelosok daerah, setelah berhasilnya nomor togel yang diminta oleh ayahku, kini kedua orang tuaku menceritakan semuanya kepada tetangga-tetangga mereka di pasar, hasilnya, banyak sekali orang pasar yang datang bertamu ke rumahku, rata2 mereka meminta air untuk penglaris dagangan. Tidak hanya itu dengan blak2an kedua orang tuaku juga menceritakan pada para tetangga di pasar bahwa aku didatangai Sunan Kalijaga. Tentu saja hal itu membuatku amat kesal, tapi aku tidak kuasa menolak keinginan mereka akhirnya aku memanggil Eyang Kali untuk mendo’akan air untuk penglaris itu. meskipun kedua orang tuaku terus aku cegah agar mereka tidak menceritakannya pada orang lain, tapi mereka tidak pernah mau menuruti, akhirnya aku meminta pada Eyang Kali agar dia sendiri yang mencegah kedua orang tuaku. Dengan sedikit ancaman dari Eyang Kali akhirnya kedua orang tuaku tidak lagi berani menceritakannya pada orang lain, meskipun begitu, ketenaranku tak bisa dibendung lagi untuk meluas, sampai terdengar di satu desa benama Cibawang, hal ini dikarenakan kekuatan penyembuhan, penglaris dagangan, dan penangkal sihir yang di peragakan Eyang Kali amatlah manjur. Tiba-tiba saja aku menjadi dukun cilik yang di cari-cari banyak orang karena kesaktianku lalu setelah mereka berobat dan meminta ini-itu padaku lalu mereka memberiku sejumlah uang meskipun aku tolak, tapi mereka tetap memberikannya, aku pun menjadi anak kecil yang mempunyai banyak uang dan tidak kesulitan untuk sekedar rental PS bersama sahabat-sahabat karibku. Akan tetapi semuanya itu tidaklah membuatku senang.

Aku masih ingat pada tahun itu melejit sebuah lagu dangdut yang berjudul “mbah dukun”. Meskipun banyak orang yang menggemarinya, tapi aku tidak, karena itu adalah senjata pemuda2 yang “nongkrong” dipinggir jalan untuk mengolok-ngolok aku. Setiap kali aku melewati kumpulan pemuda2 itu, mereka serentak menyanyikan lagu itu. dengan suara berat mereka bernyanyi “ada mbah dukun sedang ngobatin pasieeeeeennyah”. Ketika di olok2 seperti itu hatiku teramat sakit, akhirnya aku mogok mengobati pasien, aku masih ingat ketika ada seorang pasien ibu2 dan seorang anak yang datang jauh2 dari Cibodas karena anaknya sakit, aku diminta mengobatinya, tapi aku tetap tidak mau meskipun aku dibujuk habis-habisan oleh kedua orang tuaku dan meskipun sang pasien sudah menunggu sampai 8 jam lamanya, sampai dia pulang tapi aku tetap tidak mau lagi memanggil Eyang Kali untuk mengobatinya.

“Sunan Kalijaga? Benarkah dia Sunan Kalijaga?”, pertanyaan itu terus berada dibenaku, dan hanya ada satu cara untuk menjawabnya, yaitu bertanya pada seorang yang memiliki kesaktian serupa, dan pilihan itu jatuh pada “Mang Haji Emed”, Mang Haji Emed adalah adiknya Bapak Eme, dan bapak Eme adalah kakekku, bapak Eme adalah ayah dari Ibuku. Mang Haji Emed memiliki kesaktian untuk menolong orang2 yang membutuhkan, kesaktian beliau didapatkan dari warisan ayahnya yang memiliki kesaktian serupa, dan kesaktian itu di wariskan secara turun temurun, yang diawali dari kesaktian Kiai Hasan,yaitu salah seorang nenek moyangku penyebar agama Islam di daerah Majalaya. Saat itu aku mendesak kedua orang tuaku agar aku dapat di pertemukan dengan Mang Haji Emed, dengan kesepakatan bahwa aku bersedia lagi mengobati orang-orang yang meminta pertolongan, lalu akhirnya Mang Haji Emed pun di jemput dari rumahnya di Pegunungan Cihaneut.

Beberapa jam kemudian datanglah ayahku dan Mang Haji Emed ke rumah, setelah mereka berbincang bincang agak lama di ruangan tamu, akhirnya aku di panggil ke ruang tamu lalu aku duduk diantara Mang Haji Emed dan ayahku, seakan-akan sudah mengerti, Mang Haji Emed langsung menyuruhku memanggil Eyang Kali, setelah aku panggil maka seperti biasanya tangan kiriku menegang dan langsung megusap wajahku dari bawah ke atas, Eyang Kali pun datang dan langsung merasuk kedalam tubuhku, seperti biasanya aku tidak bisa lagi mengendalikan tubuhku, seluruh gerak gerik tubuhku dan ucapan dari mulutku adalah murni dan benar-benar dari Eyang Kali, bukan dariku, lalu seperti biasanya Eyang Kali tersenyum pada kedua orang tuaku dan pada Mang Haji Emed setelah mengucapkan salam, Eyang Kali bertanya, “ada apa, kenapa memanggilku”, lalu ayahku berkata, “Eyang, ini ada saudaranya agus, Mang Haji Emed, beliau ingin berkenalan dengan Eyang”, lalu Mang Haji Emed segera meraih tanganku dan berjabat tangan, Eyang Kali pun menyambut hangat salaman itu lalu kedua tangan kami berjabatan erat dan kami terdiam agak lama, akhirnya Eyang Kali pun melepaskan jabatannya, akhirnya Eyang Kali berkata pada ayahku, “coba mana rokoknya”. Lalu Mang Haji Emed pun memberi isarat dengan menganggukan kepala pada ayahku, dan ayahku segera menangkap isarat itu, lalu ayahku menyuruh adiku untuk membelikan rokok kesenangan Eyang Kali, yaitu rokok gudang garam merah.

Tidak berapa lama dialog antara Mang Haji Emed dengan Eyang Kali pun terjadi, “dari mana Eyang Kali teh?” tanya Mang Haji Emed, “dari Rumah Sakit” jawab Eyang Kali, “oh dari rumah sakit” kenapa Eyang merasuki tubuh Agus?” tanya Mang Haji Emed. Lalu Eyang kali menjawab “aku merasuki tubuh Agus karena Agus suka Main ke Rumah Sakit”, lalu Mang Haji Emed bertanya lagi “maaf Eyang saya mau bertanya, sebenarnya eyang kali ini siapa?” tanya Mang haji Emed, lalu Eyang kali menatap lama kearah Mang Haji Emed tatapannya menembus kedalam mata Mang Haji Emed, lalu Eyang Kali berkata “baiklah aku akan menceritakan padamu, akan tapi kamu tidak boleh menceritakannya pada siapapun”, lalu Mang Haji Emed menyanggupinya, setelah itu Eyang Kali mengulurkan tangan untuk berjabatan, setelah berjabat tangan lalu kepala Eyang Kali mendekati telinga Mang Haji Emed, lalu membisikan sesuatu yang membuat Mang Haji Emed merinding hingga membuat tubuhnya kelihatan bergetar, Eyang Kali bebisik “sebenarnya aku adalah Sunan Kalijaga”,, setelah terdiam agak lama ayahku bertanya pada Mang Haji Emed, “gimana mang?”, lalu Mang Haji Emed menjawab dengan sedikit mengeraskan suaranya, “tidak salah lagi!, ini benar2 Sunan Kalijaga”, akhirnya kami bertiga tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar