Sangat sulit untuk membangkitkan memori lama apalagi yang sudah berjalan sekitar 10 tahun yang lalu, perjalanan hidup seorang manusia memang unik kadang harus menempuh berbagai belokan dan hal-hal yang tidak terduga, semuanya ini diawali sekitar januari pada tahun 2000, ketika untuk pertama kalinya aku dirasuki sosok gaib yang tidak dikenal. “sama siapa ini“ tanya ayahku kepada diriku yang sedang kesurupan, lalu entah kenapa dan bagaimana, mulutku bergerak sendiri dan mengeluarkan kata yang sebenarnya tidak aku ucapkan. “dengan eyang Kali” jawab mulutku, lalu ayahku bertanya lagi “dari mana”, lalu mulutku menjawab “dari rumah sakit”, melayanglah pikiranku pada waktu itu, sebenarnya rumahku berada di kampung Ebah, di sebuah kota kecil bernama Majalaya, di kampungku berdirilah sebuah rumah sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya (RSUD), rumah sakit itu berada dekat dengan rumahku, rumah sakit itu memiliki halaman belakang yang luas, aku dan teman-temanku sering memanfaatkannya untuk bermain layang-layang, apabila maghrib tiba aku pergi untuk ngaji di mesjid dekat rumah, tapi jika aku dan teman-temanku malas untuk ngaji, maka kami akan memalingkan langkah untuk bermain ke rumah sakit atau kami sebut “mabal”, dulu aku memang sedikit badung, tapi itu mewarnai masa kanak-kanaku, aku juga sering berenang ke sungai dengan teman2ku saat mabal sekolah, sahabatku seperti Deni, Yudi, Atip, Amat, Graha, Ba A, Udi, Uwil dan Atep, adalah sahabat2ku waktu itu, teman2 “seperjuangan” dalam hal melakukan aksi kenakalan.
Dialog antara ayahku dengan makhluk gaib yang merasuki tubuhku masih berlanjut dan menuai keanehan karena tidak berapa lama aku sudah di kelilingi tetangga-tetangga dan saudara-saudaraku yang masih keluarga, mereka membacakan berbagai ayat2 alqur’an yang bisa mereka ingat, mungkin mereka juga takut, tapi aku tidak, aku merasa bahwa makhluk ini mengambil potensi otaku, karena setiap yang aku pikirkan maka mulutku akan megucapkannya, aku sadar betul saat dialog itu terjadi tapi tubuhku diluar kendaliku. “mau apa eyang Kali teh” tanya ayahku, mulutku berkata “mau rokok gudang garam merah dan kopi hitam”, lalu tanpa pikir panjang lagi ayahku menyuruh adikku membelikan yang Eyang Kali mau, waktu itu aku merasa senang dengan apa yang diminta oleh Eyang Kali, perlu di ketahui bahwa waktu itu meskipun aku masih kelas 2 SMP, tapi aku sudah menjadi pecandu rokok, aku mulai merokok sejak kelas 5 SD, di awali dengan keingintahuan antara aku, Deni dan Yudi, dengan rasa asap rokok, lalu kami pergi ke areal pesawahan yang sangat jauh sekali dari area pemukiman penduduk, hanya untuk mencoba rasanya asap rokok itu, lalu di dalam sebuah gubug kecil kami melakukan aksi kenakalan kami, yang akhirnya menjadi kebiasaan yang tidak bisa kami hentikan sampai aku kuliah tingkat 3 aku masih pecandu rokok untuk akhirnya berhenti karena penyakit yang aku derita.
Mungkin kesurupanku waktu itu diartikan negatif oleh para tetangga, ibuku dan semua orang yang mengerubuingiku, kecuali aku dan ayahku, waktu itu aku senang karena bisa bebas merokok di rumahku sendiri dan didepan orang tuaku sendiri, hal yang sangat tidak mungkin terjadi jika aku tidak kesurupan, sedangkan ayahku? Perlu diketahui ayahku yang waktu itu adalah seorang ayah yang tidak solat, meskipun kami adalah satu keluarga yang beragama Islam, tapi solat bukanlah hal yang yang rutinitas kami kerjakan, ayahku juga sering bermain judi dengan memasang nomor “Togel” dia sangat pandai merumuskan angka-angka karena terkadang dia juga sering memenangkan sejumlah uang dari “Togel” tersebut, setelah menyuguhi Eyang Kali dengan Kopi dan Rokok ayahku langsung menanyakan nomor togel yang akan keluar besok, “eyang, saya mau minta nomor togel untuk besok” tanya ayahku, lalu Eyang Kali menjawab “baiklah aku akan memberikanmu nomor togel yang akan keluar besok, tapi ada saratnya” jawab Eyang Kali, lalu ayahku bertanya lagi “saratnya itu apa, insya Alloh kalau sanggup saya akan penuhi” kata ayahku, “saratnya mudah, yaitu kamu harus melakukan solat 5 waktu setiap hari” kata Eyang Kali, lalu ayahku menyanggupinya, saat itu Eyang Kali berdialog sambil merokok, dan rasanya nikmat sekali karena dilakukan dengan cara yang tidak biasa aku lakukan, tanganku tetap menegang saat memegang rokok sehingga membuat rokok yang aku pegang terjepit dengan kuat menghasilkan asap yang benar-benar berat ketika di hisap, dan dengan segera makhluk yang merasuk dalam tubuhku itu menghisapnya ke dalam paru2ku menghasilkan rasa nikmat yang sangat luar biasa, aku dapat merasakannya, memang semuanya dia yang melakukannya tapi aku juga merasakannya dan aku juga merasakan rasa manis gula kopi yang Eyang Kali minum, aku seakan-akan dituntun untuk melakukan semuanya itu.
Eyang Kali sangat pandai bicara, dia menceritakan semua kelakuan burukku, aku yang suka mabal ngaji dengan teman2ku lalu aku yang suka merokok di pos ronda, semuanya di ceritakan pada kedua orang tuaku hingga membuat saudara sepupuku ‘Deni’ kena imbasnya dan dia dimarahi orang tuanya. Eyang Kali meminta sebuah bolpoin dan kertas untuk menuliskan nomor togel yang di pesan ayahku, sore itu ayah dan ibuku hendak pergi untuk order daging ke rumah jagal, memang begitulah pekerjaan kedua orang tuaku bangun sekitar jam 2 malam untuk pergi ke pasar berjualan daging Sapi, lalu pulang ke rumah jam 12 siang, lalu sorenya harus pergi untuk order barang, aku yang kesurupan dibiarkan saja, menikmati sebatang rokok dan kopi dan berdialog dengan orang2 yang masih mengerubingiku, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aneh2 dan mereka juga minta ini itu, seperti minta jodoh dan lain2. Waktu itu aku tidak di sembuhkan oleh seorang usatadz manapun, kadang kupikir alangkah kejamnya orang tuaku waktu itu, tapi pikiran itu segera aku enyahkan toh karena aku juga menikamatinya, untungnya kedua orang tuaku tidak lama pergi mereka kembali sekitar pukul 17.00. saat mereka baru kembali dari order daging, tanpa ku sangka Eyang Kali menghardik ayahku “Hey, dari mana saja kamu!” kata Eyang Kali, “Saya baru pergi untuk order daging eyang” jawab Ayahku, “Kamu sudah solat ashar?!” kata Eyang Kali, “belum” kata Ayahku, “Cepat kamu solat!, awas kalau kamu menunda nundanya” kata eyang kali, lalu Ayahku segera melakukan solat ashar dan dari saat itulah, akhirnya hingga sekarang, Ayahku tidak pernah ketinggalan solat lima waktu dan itu di contoh oleh anggota keluarga yang lain dan hingga sekarang keluarga kami adalah keluarga yang tidak pernah ketinggalan solat 5 waktu.
Eyang Kali akan keluar dari tubuhku, katany jika aku membuthkan dia aku bisa bilang gini “eyang Kali datang” maka dia akan segera datang, waktu itu jam menunjukan pukul 17.40 adzan maghrib hampir berkumandang, setelah solat ashar, ayahku berdialog lagi dengan Eyang Kali, setelah menghabiskan sebatang rokok dan segelas kopi, Eyang kali berpamitan dan bersalaman pada semua yang mengerubungiku tapi dia menceritakan satu hal yang membuat aku dan ayahku tercengang, dia membisikan seuatu kepada ayahku yang sebelumnya ayahku harus menjaga kerahasiaannya, tidak boleh menceritakannya pada orang lain, karena dia hanya akan menceritakannya pada ayahku saja lalu aku juga merasa bulu kuduku merinding waktu dia membisikan kata-kata itu, Eyang Kali berkata “sebenarnya aku adalah Sunan Kalijaga!”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar