Senin, 15 Maret 2010

Episode 4, Eyang Jati



Saat aku berbaring dan memejamkan mata, aku sadar dengan penuh kesadaran bahwa suatu saat aku akan mati, aku tidak tahu setelah mati aku akan kemana setelah mati itu, lalu aku berkata lagi yah aku yang akan mati suatu saat nanti aku akan mati, aku, aku! Aku, aku, aku, aku, aku, aku aku aku, setelah itu tubuhku akan mengalami ketakutan yang teramat dahsyat bergetar hebat nafasku memburu kedua tanganku mengepal dan bergetar, selama 6 detik aku akan mengalami ketakutan teramat sangat hebat layaknya seperti orang yang sedang kaget, mungkin inilah yang disebut Phobia, tapi aku belum pernah mendengar Phobia terhadap kematian diri sendiri, karena kukira semua orang pasti ketakutan jika dihadapkan pada kematiannya sendiri. Semua kukira hal ini wajar-wajar saja, tapi ini terlalu menyiksa dan menyakitkan. Aku sadar jika aku berbuat musyrik kepada Alloh maka dosaku tidak akan terampuni, neraka adalah bagianku di akhirat kelak, tapi keadaan ini memaksaku, aku tidak bisa menolak ketika ayahku menungguiku bermain PS karena di rumah ada seorang tamu yang hendak berobat.

Dulu sebelum aku mengalami hal ini semuanya berjalan normal-normal saja, aku bermain kesana kemari tidak ada yang melarang, bahkan aku bersama teman-temanku pernah berpetualang ke sebuah desa yang belum pernah kami kenal sebelumnya, hingga kami pun tersesat, berenang di sungai adalah kebiasaan rutin kami di hari minggu dari mulai sungai Dasta yang angker, sungai Pasir Batu yang jernih dan ada ikannya, hingga sungai Buk Botol yang memungkinkan kami terjun bebas dari ketinggian 4 meter sebelum akhirnya tercebur ke sungai beraliran deras itu. tiap malam jika sedang mabal ngaji, kami pergi ke Majalaya mencari tempat-tempat rental PS yang nyaman, meskipun kami harus berjalan sejauh 2 kilometer, dan pulangnya kami akan mencari puntung rokok yang masih panjang untuk di bakar lagi dan kami hisap, meskipun kupikir hal itu adalah sesuatu yang menjijikan, tapi saat tidak punya uang hal itu bisa menjadi alternatif yang sangat menyenangkan. Berkumpul di Base Camp adalah rutinitas kami, Base Camp itu adalah rumah panggung kosong milik ibunya deni, di base camp itu kami berkumpul untuk bermain remi dengan peraturan, yang kalah akan di ‘betrik’ (di centrik dengan tulunjuk), pernah juga saat itu ‘kolongan’ (bawah teras rumah panggung) di pakai oleh seekor itik tetangga untuk bertelur, telurnya besar2 dan banyak, lalu saat kami menginap di base camp itu kami memasak telur2 itu dan kami memakanya dengan nasi liwet, sambal, ikan asin dan tentu saja tidak ketinggalan hati harimau (jengkol). Kami juga tidak akan pernah melewatkan untuk menonton parade qosidah yang sering di selenggarakan di mesjid-mesjid untuk menyambut Maulid Nabi dan Isro Mi’raj, saat musim mangga tiba base camp kami akan di penuhi mangga yang di petik dari pohon mangga milik ibuku, tapi setelah aku mengalami hal ini teman-temanku terasa asing bagiku, aku benar-benar seperti orang aneh, lalu aku berharap teman-temanku semua bisa kesurupan juga seperti aku, agar tidak ada perbedaan lagi diantara kami, dan nantinya harapan itu terwujud.

Dalam versi Eyang Kali orang yang sakit memiliki 4 kemungkinan, pertama karena penyakit, penyakit itu seperti makhluk hidup, yang melekat pada tubuh manusia seperti magnet meskipun penyakit itu diangkat maka dia akan berusaha melekat lagi pada manusia, kecuali setelah penyakit itu diangkat lalu dipenjarakan maka penyakit itu tidak akan bisa kembali lagi kepada si penderita, mengangkat dan memenjarakan penyakit adalah hal yang memerlukan banyak tenaga tentu saja kegiatan ini seringkali membuatku berkeringat, biasanya penyakit itu di penjarakan kedalam bumi (tanah) penyakit dzohir seperti tergores pisau dan berdarah tidak bisa di sembuhkan oleh Eyang Kali, Eyang Kali hanya bisa mengambil rasa sakitnya saja, kedua karena guna-guna dan sihir biasanya orang yang menderita penyakit ini mudah disembuhkan karena ternyata Eyang Kali memiliki kesaktian tinggi untuk membalikan sihir itu pada ‘penembaknya’ dan si penderita bisa langsung sembuh seketika itu juga, ketiga karena ‘kasibat’ (terserempet) kasibat biasanya dilakukan oleh Jin-jin penunggu yang tempatnya merasa terganggu oleh si penderita , jin-jin itu biasanya beringas mereka adalah penunggu rumah atau penunggu tempat-tempat angker, terkadang jin-jin itu menantang Eyang Kali adu kesaktian dan pertarungan tapi kadang juga mereka meminta sarat perdamaian seperti telur ayam kampung bambu kuning dan lainnya kadang si penderita bisa langsung sembuh jika negosiasi berjalan lancar jika tidak pertarungan dengan sang Jin jahat bisa berlangsung sampai 3 jam lamanya, keempat karena adzab dari Alloh, penyakit ini lebih susah untuk di sembuhkan, bahkan tidak bisa di sembuhkan, hal ini karena dosa dari si penderita atau do’a dari orang yang di dzoliminya, ini hanya bisa dilakukan dengan taubat dari si penderita kepada Alloh atau meminta maaf pada orang yang di dzoliminya dalam hal ini biasanya adalah orang tuanya atau mertuanya.

Wa euis adalah pedagang daging ayam di pasar, usahanya maju dan be omzet besar tiap bulannya beliau adalah kakak kandung dari ayahku, suatu ketika dia sakit perut, terasa ada angin yang berkumpul di perutnya dan sudah 2 minggu dia tidak bisa kentut sama sekali, dia sudah berobat ke Rumah Sakit tapi obat yang diberikan tidaklah cukup manjur. Akhirnya dia datang kerumahku sekitar bada maghrib, menurut Eyang Kali penyakit yang di deritanya adalah karena ‘kasibat’ seekor jin yang memiliki kesaktian tinggi telah menanamkan penyakit kedalam perutnya, saat di obati, Jin itu malah melawan, lalu Eyang Kali menggunakan tubuhku untuk bertarung tapi aku adalah tubuh yang lamban untuk digerakan akhirnya dia keluar dari tubuhku, aku hanya bisa diam menunggu, tanpa mengetahui bagaimana dahsyatnya pertarungan itu dan pertarungan itu berlangsung selama hampir 3 jam, akhirnya aku dirasuki lagi oleh sesuatu makhluk yang asing bagiku dia langsung meminta botol pada ayahku, setelah ayahku membawakan botol, tanganku langsung menggenggam sesuatu yang tidak bisa aku lihat, rasanya amat kuat, lalu dengan susah payah akhirnya aku berhasil memasukannya kedalam botol, setelah selasai dia mengucapkan Hamdallah, lalu Wa Euis langsung terkejut karena perutnya langsung merasa enak lagi tidak berapa lama dia pun langsung kentut dengan kerasnya lalu setelah kami tertawa ayahku berterima kasih kepada makhluk asing yang merasukiku “terima kasih Eyang Kali”, tapi jawaban dari makhluk yang merasukiku tidak seperti yang diharapkan “aku bukanlah Eyang Kali”, dengan terkejut ayahku bertanya lagi “lalu ini dengan siapa”, makhluk yang merasuki aku berkata “aku adalah Eyang Jati”. Dia tidaklah banyak berbicara seperti Eyang Kali, Eyang Jati lebih banyak diam dan hanya menjawab pertanyaan yang perlu untuk di jawab saja setelah mengucapkan salam Eyang Jati pun keluar dari tubuhku Lalu digantikan oleh Eyang Kali.

Tidak berapa lama setelah pengobatan itu, Wa Euis pun berpamitan, dia memberiku amplop yang aku tau isinya pasti uang, tapi Eyang Kali tidak mau menerimanya, sebenarnya Eyang Kali sudah sering melarang kedua orang tuaku untuk menerima apapun pemberian dari pasien tapi Wa Euis terus menerus memaksa, akhirnya uang itu di terima oleh ayahku meskipun setelah wa Euis pulang ayahku dimarahi lagi oleh Eyang Kali karena telah menerima uang itu, lalu setelah itu ayahku dan Eyang Kali berdialog dan seperti biasanya Eyang Kali berdialog dengan santainya sambil merokok, di sela-sela dialog itu ayahku bertanya “Eyang saya mau nanya, kalau Eyang Jati itu siapa”, sebelum menjawab pertanyaan itu Eyang Kali mengisap dalam-dalam rokok gudang garam merah kesukaanya dan menghembuskannya dengan pelan-pelan saat itu aku sendiri adalah pecandu rokok Jarum Super, rokok Gudang Garam Merah rasanya dingin dan tidak terlalu kusukai karena bukan rokok Filter, biasanya Eyang Kali langsung menjawab pertanyaan apapun yang diajukan tapi kali ini tidak, dalam hatiku berkata “banyak gaya banget!”, lalu Eyang Kali tersenyum dan berkata “Eyang Jati ada Sunan Gunung Jati, sewaktu pertarungan tadi sebenarnya aku sudah kalah, karena Jinnya terlalu sakti, lalu aku meminta pertolongan pada Eyang Jati, dan akhirnya kami berdua bertarung mengalahkan dia sampai akhirnya dia pun berhasil kami masukan kedalam botol itu”. Begitulah, dari situlah awalnya aku memiliki Eyang Jati yang bisa aku panggil hanya dengan berkata “Eyang Jati datang!” dan apabila ada pasien dengan penyakit yang kuat maka aku akan memanggil Eyang Jati untuk mengobatinya, semakin lama aku semakin tenar, dan ketenaranku itu membuatku sangat tersiksa dan mencurigai setiap teman di sekolahku, takut kalau2 mereka tau bahwa aku adalah seorang dukun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar