Kamis, 25 Maret 2010

Episode 5, Terbang

Ada satu pertunjukan semacam seni kebudayaan, sampai sekarang aku tidak tahu dari mana pertunjukan ini pertama kali ada, dan ciri khas dari daerah mana pertunjukan ini berasal, yang jelas pertunjukan ini diminati oleh masyarakat untuk menghibur, pertunjukan ini biasanya diselenggarakan untuk meramaikan acara-acara pesta pernikahan ataupun pesta khitanan, pertunjukan ini semestinya tidak diperuntukan bagi anak-anak karena waktu penyelenggaraanya pun antara pukul 10.00 malam sampai pukul 03.00 pagi. Acara ini di selenggarakan di depan lapangan luas tempat Eyang (nenek moyang) untuk ‘ngibing’ (menari). Sebelum acara dimulai pertama-tama sang Kuncen (pemimpin acara) membakar kemenyan dan mempersiapkan sesajian berupa pisang, kelapa, bunga rampai, kopi, rokok gudang garam merah, telur ayam kampung, dan beberapa makanan ringan dalam toples, setelah itu sang Kuncen akan membacakan jampi-jampi pemanggilan arwah, Eyang, Jin, dedemit, dan makhluk-makhluk halus lainnya. Tidak berapa lama, beberapa personil musik akan memainkan beberapa alat musik tradisional seperti tabuh kulit sapi, kecapi, rebab, go ong dan lainnya, lalu nyanyian pun segera dinyanyikan oleh seorang lelaki tua, nyanyian itu terdengar seperti adzan yang dipanjang-panjangkan dan mendayu-dayu alunan musik pun terdengar lambat, setelah itu satu demi satu mulailah orang-orang kesurupan, orang yang kesurupan tidak akan di obati melainkan orang itu akan digusur ketengah lapangan untuk dibiarkan ngibing (menari), jika ada yang bertanya siapakah yang kesurupan? Maka jawabannya adalah semua orang bisa kesurupan, dari mulai penonton yang melingkari lapangan ngibing, personil yang memainkan alat musik, tamu kehormatan seperti ketua RT atau ketua RW, saudara-saudara yang punya hajatan, sampai kedua pengantinnya, kesurupan itu bisa menimpa anak-anak, muda, tua, miskin, kaya sama saja, semuanya pasti bisa kesurupan. Orang yang kesurupan biasanya kehilangan kesadarannya, maka dari itulah oleh masyarakat pertunjukan ini disebut ‘terbang’.
Terbang sangat jarang diselenggarakan, hal ini karena banyaknya kecaman dari beberapa ustadz dan pemimpin-pemimpin agama, tapi kehadirannya selalu ditunggu oleh sebagian masyarakat, termasuk aku dan teman-temanku. Saat itu sekitar bada maghrib aku di ajak teman-temanku ngaji, seperti biasanya, sebelum ngaji aku dan teman-temanku nongkrong di pos ronda yang remang-remang, sambil menghisap asap rokok kami membicarakan pesta penikahan tetangga kami, yang menjadi bahan pembicaraan waktu itu bukanlah dangdutan yang sudah diselenggarakan siang tadi, tapi tentu saja terbang yang akan digelar malam ini, itu adalah terbang kedua yang diselenggarakan di desa kami, jika terbang yang pertama tidak kami ikuti, maka kami berniat ‘terbang’ kali ini bisa kami ikuti. Setelah pembicaraan itu, kami beranjak pergi dari pos ronda, langkah kami tidak menuju ke arah timur dimana mushola tempat kami mengaji tapi ke arah barat, iya tentu saja waktu itu kami mabal ngaji, dan kami pergi ketempat mabal favorit kami, rumah sakit.
Di rumah sakit, kami bercanda dan ngobrol banyak hal, tentang kakak-kakak kelas ngaji, yang kami sebut “aa-aa nu arageung”, tentang perampokan sebuah warung, dan tentu saja obrolan tentang kelompok ngaji musuh kami yaitu kelompok ngaji Al-Falah. Perlu diketahui sebenarnya di kampung kami ada dua tempat ngaji, yaitu Miftahul Zannah dan Al falah, keduanya masih satu rumpun pendidikan Islam, Al falah sebagai mesjid pendahulu di kampung kami, didirikan oleh seorang ulama bergelar ‘Mama’, setelah ‘Mama’ meninggal, munculah 2 orang ustadz murid ‘Mama’, yang satu bernama ustadz.Cece, beliau adalah penerus pendidikan Islam di mesjid Al Falah, yang satu lagi bernama ustadz. Syekh Romli, beliau mendirikan Pendidikan Islam yang baru di mesjid Miftahul Zannah dekat rumahku. Setelah itu munculah 2 kelompok ngaji, yang satu adalah kelompok ngaji kami yaitu kelompok ngaji Mizan (Miftahul Zannah) yang anggotanya adalah aku, Deni, Graha, Atip, Atep ntung, Uwil dan Ba A, dan satu lagi adalah kelompok ngaji Al Falah yaitu Atep Doyok, Yudi, Nana, Yana, Beko dan Indra. Awalnya antara kami dan Al Falah tidak ada permusuhan apa-apa Atep Doyok adalah saudaranya Graha, Yudi dan Nana adalah sahabat Deni waktu kecil, Yana adalah sahabatku waktu kecil, begitu juga dengan Beko dan Indra. Tapi entah kenapa dan bagaimana awal mulanya tiba-tiba saja permusuhan itu muncul begitu saja, kadang kalau dipikir-pikir semuanya terasa lucu karena permusuhan antara kami dan kelompok ngaji Al falah adalah permusuhan yang teramat tidak beralasan.
Malam itu waktu menunjukan jam 9, kami masih asik ngobrol sambil sesekali ‘ngecengin’ seorang perempuan yang sedang duduk menunggu, mungkin salah seorang anggota keluarganya sedang di rawat-inap disana, lalu Atep ntung bertanya padaku “Du kamu mau ikut terbang ngga?”, “iya, tentu saja” jawabku, lalu Ntung bertanya lagi “kamu kan belum minta izin sama orang tuamu, nanti kamu pasti dimarahin?”, “ngga akan, tenang aja” jawabku enteng, sebenarnya aku sudah tahu kalau nantinya aku akan dimarahi karena pulang larut malam, tapi kurasa hal itu sudah menjadi kebiasaanku, awalnya terjadi sewaktu kami menonton parade qosidah, dan aku pulang ke rumah pukul setengah satu malam, waktu itu aku memang dimarahi, tapi setelah dimarahi aku langsung disuruh makan. “kalau begitu ayo kita pergi sekarang” kata Graha mengomandoi, tidak berapa lama kami pun bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.
Aep, adalah seorang anak dari keluarga tidak mampu, dia tumbuh di sebuah kampung benama pongporang, aku dan dia adalah teman satu sekolah meskipun kami berbeda kelas, saat itu aku duduk di kelas 3B sedangkan dia duduk di kelas 3E, meskipun dia tidak sekelas denganku tapi Aep sekelas dengan Graha, pada malam itu Graha dan Aep terlihat akrab, di tempat itu akan diselenggarakan pertunjukan terbang, kami berkumpul sedikit jauh dari lapangan tapi cukup untuk menonton dengan jelas, tidak banyak yang bisa kami lakukan selain menunggu dan Graha masih terlihat bercakap-cakap dengan kumpulan anak-anak pongporang, tidak berapa lama terlihat sang Kuncen sudah duduk bersila dilapangan membakar kemenyan dan membacakan jampi-jampi dan para personil musik memegang alat musiknya masing-masing, bersiap untuk memainkannya, para penonton pun mulai berdatangan dari berbagai kumpulan pemuda-pemuda dari berbagai kampung dengan niat agar mereka bisa kerasukan, hilang ingatan dan secara tidak sadar tubuh mereka “ngibing” ditengah lapangan sampai subuh, saat mereka tersadar mereka akan mendapati tubuh mereka kelelahan, para penonton yang ingin kerasukan menghisap kemenyan layaknya menghisap heroin, meskipun cara tersebut tidak begitu efektif, karena penonton yang sama sekali tidak berharap kerasukan malah bisa kerasukan dengan cepat. Setelah itu musik pun mulai terdengar dari gesekan rebab dan tabuhan kendang, sesekali go ong di pukul hingga terdengarlah sebuah arasemen musik lambat tradisional yang khas, lalu sang vokalis mulai bernyanyi dengan lirik yang panjang-panjang seperti adzan tapi bahasanya sama sekali tidak aku mengerti, lapangan masih kosong dikelilingi para penonton yang penasaran, meskipun musik sudah dimainkan hampir 2 jam lamanya tapi lapangan masih kosong, lalu tidak berapa lama di satu sudut tempat penonton berdiri mulailah terlihat seorang Pria ngaberebeg (kerasukan), dia menggaruk garuk tanah dengan cakarnya, sang kuncen langsung memapahnya ke tengah lapangan, dengan gerakan harimaunya Pria itu pun ngibing (menari) di tengah lapangan. Tidak berapa lama setelah itu satu demi satu banyak penonton yang mulai kerasukan dan lapangan mulai di penuhi orang-orang yang kerasukan dan ngibing. Ada-ada saja tingkah dan kelakuan orang yang kerasukan itu, ada yang bercakap-cakap dengan penonton ada yang makan kembang dengan rakusnya, ada yang ngibing sambil merokok, dan tentu saja ada yang berkelahi, di tengah keramaian itu Aep tiba-tiba saja terlihat pingsan meskipun teman-temannya berusaha menyadarkannya tapi sang kuncen malah membawanya ketengah lapangan, lalu tidak berapa lama Aep mulai meraung dan tubuhnya terlihat menegang lalu dengan gerakan tidak teratur Aep mulai ngibing dan berbenturan dengan orang kesurupan lainnya, seperti halnya orang yang sadar orang kerasukan pun tidak akan senang jika ngibing-nya diganggu, lalu orang kerasukan yang  terganggu dengan tarian Aep, menantangnya untuk berkelahi meskipun tanpa kata-kata tantangan itu diladeni Aep, tapi alangkah hebatnya Aep karena hanya dengan satu dorongan saja penantangnya langsung roboh dan pingsan lalu tersadar meskipun satu jam kemudian dia kerasukan lagi, tidak hanya itu dengan mata tertutup Aep juga memakan kelapa, pertama-tama ampasnya Aep buka dengan giginya sedikit demi sedikit, Aep melakukannya dengan terus menari, setelah ampasnya dibuka giliran batoknya yang harus dibuka, lalu Aep membenturkannya dengan kepalanya sendiri, dengan satu benturan saja batok kelapa itu hancur, lalu Aep meminum airnya dengan mata tetap tertutup, setiap Eyang yang berani menantang, akan Aep keluarkan dari tubuh manusianya hingga manusia yang kerasukan itu tersadar, maka manusia yang ngibing lainnya tidak ada yang berani menantang Aep, malam itu Aep benar-benar menjadi bintangnya “terbang”.
Malam itu kami hanya bisa menonton saja, meskipun kami berharap ada yang merasuki salah seorang dari kami, malah Eyang Kali juga tidak datang meskipun beberapa kali aku sengaja memanggilnya untuk merasuki aku dan ngibing, lalu uwil sengaja menghisap kemenyan agar dapat kerasukan, tapi cara itu tidak efektif. Tidak terasa waktupun sudah menunjukan pukul 3 subuh, waktu itu aku langsung pulang dan tidur hingga tidak melihat bagaimana prosesi menyadarkan para pe-ngibing itu, menurut kabar yang aku dengar keesokan harinya, Aep sangat susah untuk disadarkan oleh sang kuncen, Eyang yang merasukinya mempunyai kekuatan yang sangat tinggi. Hari itu aku sekolah seperti biasanya meskipun terlambat datang tapi tidak mengapa, karena waktu itu adalah waktu bebas karena UAS (Ujian Akhir Semester) baru saja selesai. Di sekolah aku pun bertemu dengan Graha dan kumpulan anak kelas 3E dan Aep, kami bercakap-cakap sebentar setelah itu aku pergi dan bergabung dengan teman-teman sekelasku Atep Candra, Topan maulana dan Ery Fizar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar